BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam
keseharian remaja juga harus berlatih untuk melakukan dialog dengan diri
sendiri dalam menghadapi setiap masalah, bersikap positif dan optimistis, serta
mampu mengembangkan harapan yang realistis. Remaja juga harus mampu menafsirkan
isyarat-isyarat social. Artinya, mengenali pengaruh sosial terhadap perilaku
remaja dan melihat dampak perilaku remaja, baik terhadap diri sendiri maupun
masyarakat dimana remaja berada. Remaja juga harus dapat memilih
langkah-langkah yang tepat dalam setiap penyelesaian masalah yang remaja hadapi
dengan mempertimbangkan resiko yang akan terjadi.
Meskipun
demikian, pendekatan dan pemecahan dari pendidikan merupakan salah satu jalan
yang paling strategis, karena bagi sebagaian besar remaja bersekolah dengan
para pendidikan, khususnya gurulah yang paling banyak mempunyai kesempatan
berkomunikasi dan bergaul.
Dalam
kaitannya dengan emosi remaja awal yang cenderung banyak melamun dan sulit
diterka, maka satu-satunya hal yang dapat dilakukan oleh guru adalah konsisten
dalam pengelolaan kelas dan memperlakukan siswa seperti orang dewasa yang penuh
tanggung jawab. Guru-guru dapat membantu mereka yang bertingkah laku kasar
dengan jalan mencapai keberhasilan dalam pekerjaan sekolah sehingga mereka menjadi
anak yang lebih tenang dan lebih mudah ditangani. Salah satu cara yang mendasar
adalah dengan mendorong mereka untuk bersaing dengan diri sendiri.
B.
Tujuan
Yang
menjadi Tujuan menyusun makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Mengetahui
siapa remaja dan bagaimana pola-pola emosi remaja tersebut.
2.
Mengetahui
dan memahami proses perkembangan emosi dan karakteristik perkembangan
emosi remaja.
3.
Mengetahui
dan memahami implikasi pengetahuan perkembangan emosi remaja dalam
penyelenggaraan pendidikan.
C.
Manfaat
Manfaat
yang dapat diberikan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
·
Makalah
ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang lebih tentang perkembangan
bagaimana pengaruh emosi remaja.
·
Sebagai
sumber pengetahuan dan pembelajaran untuk dapat memahami dan mempelajari
perkembangan emosi remaja.
·
Sebagai
sumber pengetahuan dan pembelajaran untuk dapat memahami dan mempelajari
bagaimana dan perkembangan emosional remaja.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Emosi
Emosi
adalah sebagai sesuatu suasana yang kompleks (a complex feeling state) dan
getaran jiwa ( a strid up state ) yang menyertai atau munculnya sebelum dan
sesudah terjadinya perilaku. (Syamsudin, 2005:114). Sedangkan menurut Crow
& crow (1958) (dalam Sunarto, 2002:149) emosi adalah “An emotion, is an
affective experience that accompanies generalized inner adjustment and mental
physiological stirred up states in the individual, and that shows it self in
his overt behavior.”Jadi emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian
dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu
tingkah laku yang tampak.
Menurut
James dan Lange , bahwa emosi itu timbul karena pengaruh perubahan jasmaniah
atau kegiatan individu. Misalnya menangis itu karena sedih, tertawa itu karena
gembira. Sedangkan menurut Lindsley bahwa emosi disebabkan oleh pekerjaan yang
terlampau keras dari susunan syaraf terutama otak, misalnya apabila individu
mengalami frustasi, susunan syaraf bekerja sangat keras yang menimbulkan
sekresi kelenjar-kelenjar tertentu yang dapat mempertinggi pekerjaan otak, maka
hal itu menimbulkan emosi.
B.
Karakteristik Perkembangan Emosi
Secara
tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, suatu
masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan
kelenjar. Meningginya emosi terutama karena anak laki-laki dan perempuan berada
dibawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa
kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu.
Tidak
semua remaja mengalami masa badai dan tekanan. Namun benar juga bila sebagian
besar remaja mengalami ketidak stabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi
dari usaha penyesuaian diri pada pola prilaku baru dan harapan sosial yang
baru. (Hurlock, 2002 :213).
Pola
emosi remaja adalah sama dengan pola emosi kanak-kanak. Jenis emosi yang secara
normal dialami adalah cinta/kasih sayang, gembira, amarah, takut dan cemas,
cemburu, sedih, dan lain-lain. Perbedaan yang terlihat terletak pada macam dan
derajat rangsangan yang mengakibatkan emosinya, dan khususnya pola pengendalian
yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi remaja.
1.
Cinta/kasih
sayang
Faktor
penting dalam kehidupan remaja adalah kapasitasnya untuk mencintai orang lain
dan kebutuhannya untuk mendapatkan cinta dari orang lain. Kemampuan untuk
menerima cinta sama pentingnya dengan kemampuan untuk memberinya.
Walaupun
remaja bergerak ke dunia pergaulan yang lebih luas, dalam dirinya masih
terdapat sifat kekanak-kanakanya. Remaja membutuhkan kasih sayang di rumah yang
sama banyaknya dengan apa yang mereka alami pada tahun-tahun sebelumnya. Karena
alasan inilah sikap menentang mereka, menyalahkan mereka secara langsung,
mengolok-olok mereka pada waktu pertama kali karena mencukur kumisnya, adanya
perhatian terhadap lawan jenisnya, merupakan tindakan yang kurang bijaksana.
Tidak
ada remaja yang dapat hidup bahagia dan sehat tanpa mendapatkan cinta dari
orang lain. Kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta menjadi sangat penting,
walaupun kebutuhan-kebutuhan akan perasaan itu disembunyikan secara rapi. Para
remaja yang berontak secara terang-terangan, nakal, dan mempunyai sikap
permusuhan besar kemungkinan disebabkan oleh kurangnya rasa cinta dan dicintai
yang tidak disadari. (Sunarto, 2002:152).
Kebutuhan
akan kasih sayang dapat diekspresikan jika seseorang mencari pengakuan dan
kasih sayang dari orang lain, baik orang tua, teman dan orang dewasa lainnya.
Kasih sayang akan sulit untuk dipuaskan pada suasana yang mobilitas tinggi.
Kebutuhan akan kasih sayang dapat dipuaskan melalui hubungan yang akrab dengan
yang lain. Kasih sayang merupakan keadaan yang dimengerti secara mendalam dan
diterima dengan sepenuh hati, kegagalan dalam mencapai kepuasan kebutuhan kasih
sayang merupakan penyebab utama dari gangguan emosional (Yusuf , 2005:206).
2.
Gembira
dan bahagia
Perasaan
gembira dari remaja belum banyak diteliti. Perasaan gembira sedikit mendapat
perhatian dari petugas peneliti dari pada perasaan marah dan takut atau tingkah
problema lain yang memantulkan kesedihan. Rasa gembira akan dialami apabila
segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan para remaja akan mengalami
kegembiraan jika ia diterima sebagai seorang sahabat atau bila ia jatuh cinta
dan cintanya itu mandapat sambutan oleh yang dicintai.
Perasaan
bahagia ini dihayati secara berbeda-beda oleh setiap individu. Bahagia muncul
karena remaja mampu menyesuaikan diri dengan baik pada suatu situasi, sukses
dan memperoleh keberhasilan yang lebih baik dari orang lain atau berasal dari
terlepasnya energi emosional dari situasi yang menimbulkan kegelisahan dirinya.
3. Kemarahan dan Permusuhan
Sejak
masa kanak-kanak, rasa marah telah dikaitkan dengan usaha remaja untuk mencapai
dan memiliki kebebasan sebagai soerang pribadi yang mandiri. Rasa marah
merupakan gejala yang penting diantara emosi-emosi yang memainkan peranan yang
menonjolkan dalam perkembangan kepribadian.
Dalam
upaya memahami remaja, ada empat faktor yang sangat penting sehubungan dengan
rasa marah.
a.
Adanya
kenyataan bahwa perasaan marah berhubungan dengan usaha manusia untuk memiliki
dirinya dan menjadi dirinya sendiri. Selama masa remaja, fungsi marah terutama
untuk melindungi haknya untuk menjadi independent, dan menjamin hubungan antara
dirinya dan pihak lain yang berkuasa.
b.
Pertimbangan
penting lainnya ialah ketika individu mencapai masa remaja, dia tidak hanya
merupakan subjek kemarahan yang berkembang dan kemudian menjadi surut, tetapi
juga mempunyai sikap-sikap di mana ada sisa kemarahan dalam bentuk permusuhan
yang meliputi kemarahan masa lalu. Sikap permusuhan berbentuk dendam,
kesedihan, prasangka, atau kecendrungan untuk merasa tersiksa. Sikap permusuhan
tanpak dalam cara-cara yang bersifat pura-pura; remaja bukannya menampakkan
kemarahan langsung tetapi remaja lebih menunjukkan keinginan yang sangat besar.
c.
Perasaan
marah sengaja disembunyikan dan seringkali tampak dalam bentuk yang
samar-samar. Bahkan seni dari cinta mungkin dipakai sebagai alat kemarahan.
d.
Kemarahan
mungkin berbalik pada dirinya sendiri. Dalam beberapa hal, aspek ini merupakan
yang sangat penting dan juga paling sulit dipahami. (Sunarto, 2002:154).
4. Ketakutan dan Kecemasan
Menjelang
anak mencapai remaja, dia telah mengalami serangkaian perkembangan panjang yang
mempengaruhi pasang surut berkenaan dengan rasa ketakutannya. Beberapa rasa
takut yang terdahulu telah teratasi, tetapi banyak yang masih tetap ada. Banyak
ketakutan-ketakutan baru muncul karena adanya kecemasan dan rasa berani yang
bersamaan dengan perkembangan remaja itu sendiri.
Remaja
seperti halnya anak-anak dan orang dewasa, seringkali berusaha untuk mengatasi
ketakutan yang timbul dari persoalan kehidupan. Tidak ada seorangpun yang
menerjunkan dirinya dalam kehidupan dapat hidup tanpa rasa takut. Satu-satunya
cara untuk menghindarkan diri dari rasa takut adalah menyerah terhadap rasa
takut, seperti terjadi bila seorang begitu takut sehingga ia tidak berani
mencapai apa yang ada sekarang atau masa depan yang tidak menentu.
Rasa
takut yang disebabkan otoriter orang tua akan menyebabkan anak tidak berkembang
daya kreatifnya dan menjadi orang yang penakut, apatis, dan penggugup.
Selanjutnya sikap apatis yang ditimbulkan oleh otoriter orang tua akan
mengakibatkan anak menjadi pendiam, memencilkan diri, tak sanggunp bergaul
dengan orang lain (Willis, 2005:57).
5. Frustasi dan Dukacita
Frustasi
merupakan keadaan saat individu mengalami hambatan-hambatan dalam pemenuhan
kebutuhannya, terutama bila hambatan tersebut muncul dari dirinya sendiri.
Konsekuensi frustasi dapat menimbulkan perasaan rendah diri.
Dukacita
merupakan perasaan galau atau depresi yang tidak terlalu berat, tetapi
mengganggu individu. Keadaan ini terjadi bila kehilangan sesuatu atau seseorang
yang sangat berarti buat kita. Kalau dialami dalam waktu yang panjang dan
berlebihan akan menyebabkan kerusakan fisik dan psikis yang cukup serius hingga
depresi.
C.
Ciri-Ciri Emosi Remaja
Menurut
Biehler pada tahun 1972 dalam Sunarto, 2002:155, membagi ciri-ciri
emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu usia 12–15 tahun dan usia
15–18 tahun yang masing-masing ciri-ciri tersebut sebagai berikut:
Ciri-ciri emosional
remaja usia 12-15 tahun :
a.
Pada
usia ini seorang siswa/anak cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka.
b.
Siswa
mungkin bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya
diri.
c.
Ledakan-ledakan
kemarahan mungkin saja terjadi.
d.
Seorang
remaja cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan membenarkan pendapatnya
sendiri yang disebabkan kurangnya rasa percaya diri.
e.
Remaja
terutama siswa-siswa SMP mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara
lebih obyektif.
Ciri-ciri emosional
remaja usia 15–18 tahun:
a.
Pemberontakan
remaja merupakan pernyataan-pernyataan/ekspresi dari perubahan yang universal
dari masa kanak-kanak ke dewasa.
b.
Karena
bertambahnya kebebasan mereka, banyak remaja yang mengalami konflik dengan
orang tua mereka.
c.
Siswa
pada usia ini seringkali melamun, memikirkan masa depan mereka. Banyak di
antara mereka terlalu tinggi menafsirkan kemampuan mereka sendiri dan merasa
berpeluang besar untuk memasuki pekerjaan dan memegang jabatan tertentu.
D.
Pengaruh Emosi Terhadap Perilaku dan Perubahan
Fisik
Dibawah ini adalah beberapa contoh tentang pengaruh emosi
terhadap perilaku individu di antaranya sebagai berikut:
1. Memperkuat semangat, apabila orang merasa
senang atau puas atas hasil yang telah dicapai.
2. Melemahkan semangat, apabila timbul rasa
kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini ialah timbulnya
rasa putus asa (frustasi)
3. Menghambat atau mengganggu konsentrasi
belajar, apabila sedang mengalami ketegangan emosi dan bisa juga menimbulkan
sikap gugup (nervous) dan gagap dalam berbicara.
4. Terganggu penyesuaian social, apabila terjadi
rasa cemburu dan iri hati.
5. Suasana emosional yang diterima dan dialami
individu semasa kecilnya akan mempengarui sikapnya dikemudian hari, baik
terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. (Yusuf, 2004 : 115).
Sedangkan perubahan emosi terhadap perubahan fisik (jasmani)
antara lain sebagai berikut :
a. Reaksi elektris pada kulit: meningkat bila
terpesona,
b. Peredaran darah: bertambah cepat bila marah,
c. Denyut jantung: bertambah cepat bila terkejut,
d. Pernapasan: bernapas panjang kalau kecewa,
e. Pupil mata: membesar mata bila marah,
f. Liur: mengering kalau takut atau tegang,
g. Bulu roma: berdiri kalau takut,
h. Pencernaan: mencret-mencret kalau tegang,
i.
Otot:
ketegangan dan ketakutan menyebabkan otot menegang atau bergetar (tremor),
j.
Komposisi
darah: komposisi darah akan ikut berubah karena emosional yang menyebabkan
kelenjar-kelenjar lebih aktif. (Sunarto, 2002:150).
E.
Pengaruh Emosi dan Implikasinya dalam
Penyelenggaraan Pendidikan
Rasa
marah, kesal, sedih atau gembira adalah hal yang wajar yang tentunya sering
dialami remaja meskipun tidak setiap saat. Pengungkapan emosi itu ada juga
aturannya. Supaya bisa mengekspresikan emosi secara tepat, remaja perlu
pengendalian emosi. Akan tetapi, pengendalian emosi ini bukan merupakan upaya
untuk menekan atau menghilangkan emosi melainkan:
a. Belajar menghadapi situasi dengan sikap
rasional
b. Belajar mengenali emosi dan menghindari dari
penafsiran yang berlebihan terhadap situasi yang dapat menimbulkan respon
emosional. Untuk dapat menanfsirkan yang obyektif, coba tanya pendapat beberapa
orang tentang situasi tersebut.
c. Bagaimana memberikan respon terhadap situasi
tersebut dengan pikiran maupun emosi yang tidak berlebihan atau proporsional,
sesuai dengan situasinya, serta dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan
social.
d. Belajar mengenal, menerima, dan mngekspresikan
emosi positif (senang, sayang, atau bahagia dan negative (khawatir, sedih, atau
marah).
Kegagalan pengendalian emosi biasanya terjadi karena remaja
kurang mau bersusah payah menilai sesuatu dengan kepala dingin. Bawaannya main
perasaan. Kegagalan mengekspresikan emosi juga karena kurang mengenal perasaan
dan emosi sendiri sehingga jadi “salah kaprah” dalam mengekspresikannya.
Karena itu, keterampilan mengelola emosi sangatlah perlu agar
dalam proses kehidupan remaja bisa lebih sehat secara emosional. Keterampilan
mengelola emosi misalnya sebagai berikut:
a)
Mampu
mengenali perasaan yang muncul.
b)
Mampu
mengemukakan perasaan dan dapat menilai kadar perasaan.
c)
Mampu
mengelola perasaan.
d)
Mampu
mengendalikan diri sendiri.
e)
Mampu
mengurangi stress.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Yang
menjadi kesimpulan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
ü Emosi adalah warna afektif yang kuat dan
ditandai oleh perubahan-perubahan fisik. Emosi adalah pengalaman afektif yang
disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik
dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak.
ü Sejumlah penelitian tentang emosi remaja
menunjukkan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung kepada faktor kematangan
dan faktor belajar.
ü Suasana emosional yang penuh tekanan di dalam
keluarga berdampak negatif terhadap perkembangan remaja. Sebaliknya suasana penuh
kasih sayang, ramah, dan bersahabat amat mendukung pertumbuhan remaja menjadi
manusia yang bertanggung jawab terhadap keluarga.
ü Dengan meningkatnya usia anak, semua emosi
diekspresikan secara lebih lunak karena mereka telah mempelajari reaksi orang
lain terhadap luapan emosi yang berlebihan, sekalipun emosi itu berupa
kegembiraan atau emosi yang menyenangkan lainnya.
ü Dalam kaitannya dengan penyelenggaraan, guru
dapat melakukan beberapa upaya dalam pengembangan emosi remaja misalnya:
konsisten dalam pengelolaan kelas, mendorong anak bersaing dengan diri sendiri,
pengelolaan diskusi kelas yang baik, mencoba memahami remaja, dan membantu
siswa untuk berprestasi.
B.
Saran
Yang menjadi saran dalam makalah ini adalah sebagai
berikut :
Perkembangan
emosi setiap orang berbeda-beda , untuk itu sebagai calon pendidik hendaknya ke
depan benar-benar dibekali mata kuliah ini semaksimal mungkin sehingga tanggap
dalam menghadapi, mencari solusi ketika terjun kedalam dunia pendidikan
kedepan.
Mata kuliah
pribadi sosial ini, merupakan salah satu mata kuliah
yang sangat penting dan wajib dipelajari oleh semua mahasiswa,
untuk itu harapan kita kedepan supaya mata kuliah ini ditambah bobot sks dan
juga waktu perkuliahan, termasuk pemberian materi yang lebih mendetail tentang
perkembangan emosi pada individu.
Semoga
makalah ini dapat berguna dan bisa menjadi bahan bacaan bagi kita kedapan yang
mungkin dapat menambah wawasan kita, terutama dalam pemahaman, pengendalian
emosi dan juga pengembangan emosi yang bisa menguntungkan bagi diri sendiri dan
juga orang lain.
intinya harus bisa mengontrol emosi qta
BalasHapusemang bikin emosi yah, buat baca aja tukisannya transparan hahaha
BalasHapuskeren, lanjutkan